Discover

Situs Ki Gede Ing Suro


Title:
Situs Ki Gede Ing Suro

Description:
Situs Ki Gede Ing Suro Photograph Erwan Suryanegara According To Tomec Pires (1446-1524), a seaman Portugis is working for empire of Portugis in Asia, writes around downfall of Melaka, express extinct of influence Majapahit and Chinese in Palembang as result of evocation of Islam in region Palembang x'self. This situation and condition places Palembang becomes protection region of empire of Islam Demak, around year of 1546, what entangles Aria Penangsang from Jipang and Pangeran Hadiwijaya from Pajang. At the time of Aria Penangsang death, the its the followers running away to Palembang. The this Aria Jipang followers makes new strength by building empire of Islam Palembang. Empire founder figure of Islam Palembang is Ki Gede Ing Suro. His its first Keraton in Kuto Gawang, at the moment its the situs is acurate resided in area PT. Pupuk Sriwijaya. While mausoleum Ki Gede Ing Suro resides in back PT Pupuk Sriwijaya, 1 Ilir Palembang. From form of keraton riparian Java of Musi, the its the powers adapts with Malay area in vinicity. Happened an acculturation and assimilation of culture of jawa and Malay, known as culture Palembang, is growing until now. This Situs Ki Gede Ing Suro, besides as culture solidarity evidence of Java and Melayu, also contiguity Islam-Budha, because this mausoleum resides in ex- temple property of Budha empire ommission of Sriwijaya. Song TUDUNG PERIUK Situs Ki Gede Ing Suro Foto Erwan Suryanegara Menurut Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia, menulis sekitar tahun kejatuhan Melaka, menyatakan pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina di Palembang akibat kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri. Situasi dan kondisi ini menempatkan Palembang menjadi wilayah perlindungan Kerajaan Islam Demak, sekitar tahun 1546, yang melibatkan Aria Penangsang dari Jipang dan Pangeran Hadiwijaya dari Pajang. Pada saat Aria Penangsang mati, para pengikutnya melarikan diri ke Palembang. Para pengikut Aria Jipang ini membuat kekuatan baru dengan mendirikan Kerajaan Palembang. Tokoh pendiri Kerajaan Palembang adalah Ki Gede Ing Suro. Keraton pertamanya di Kuto Gawang, pada saat ini situsnya tepat berada di komplesk PT. Pupuk Sriwijaya. Sedangkan makam Ki Gede Ing Suro berada di belakang PT Pupuk Sriwijaya, 1 Ilir Palembang. Dari bentuk keraton Jawa di tepi sungai Musi, para penguasanya beradaptasi dengan lingkungan melayu di sekitarnya. Terjadilah suatu akulturasi dan asimilasi kebudayaan jawa dan melayu, yang dikenal sebagai kebudayaan Palembang, yang berkembang hingga sekarang. Situs Ki Gede Ing Suro ini, selain sebagai bukti perpaduan kebudayaan Jawa dan Melayu, juga persinggungan Islam-Budha, sebab makam ini berada di bekas candi milik Budha peninggalan kerajaan Sriwijaya. Lagu TUDUNG PERIUK

Author:
tvkalidoni

Tags:
museum,

Related Videos:

SANGIRAN Situs Museum PURBAKALA Wisata
The Early Man Pithecanthropus Erectus Homo SOLOensies Site. Jurassic Park of SOLO Raya SURAKARTA
Ditemukan, Kota Kuno Abad 13
Sebuah perkampungan kuno yang diperkirakan peninggalan Kerajaan Aru pada abad 13 ditemukan di tengah perkebunan Mojopahit di Desa Kota Rantang, Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatra Utara. Perkampungan kuno itu ditemukan oleh sejumlah arkeolog dan peneliti dari Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat, Kamis (24/4) petang. Penemuan diperkuat dengan adanya sejumlah benda kuno seperti tembikar, keramik, pecahan piring, manik-manik, dan nisan. Dari penelitian awal disimpulkan seluruh barang-barang berharga ini berasal dari Vietnam, Thailand, Cina, Myanmar, dan Kamboja. Barang-barang ini dibawa para saudagar yang berdagang secara barter dengan saudagar dari Indonesia. Seluruh benda-benda kuno yang ditemukan di di lahan seluas 500 meter persegi itu akan dibawa ke Jakarta untuk diteliti lebih lanjut. Setelah diteliti, benda kuno ini akan dikembalikan sebagai inventaris di Museum Sumatra Utara
Sriwijaya Temple 2008
Klip ini merupakan kegiatan kawan-kawan terkait dengan pembuatan dokumenter kerajaan Sriwijaya dan pentas 13 abad sriwijaya. Lagu Ken Arok milik Harry Roesli dan Brown Sugar milik Rolling Stones.
Apa kejadahnya?! - boleh tembus ke?
waaaa... percayalah... adakah ia benar-benar berlaku? YA!..
Historical Trowulan
Sites of the ruins and remains of Majapahit Kingdom. Part of my Java Bicycle Tour #7.
Bridge Ampera, My Pride
Bridge Ampera, My Pride Reportre T. Wijaya Bridge is built since April 1962, and applied the year 1965, initiative Bung Karno. Its the fund from world back pay ke-II from government of Japan. The this bridge workers also most of Japan. Bridge length Ampera 1117 metre, and width 22 metre. Highest point of bridge Ampera 115 metre ( from water level). Has two towers with height of 63 metre. And, this bridge weight 944 tons! A lot worries this bridge age. But partly this bridge are sure age until 50 years again.Member Of Palembang calls bridge Ampera is " project". So Beautiful, enjoys lamps from countrified of resident alongside river Musi from the top (of) bridge Ampera. Song LOVE ME DO by The Beatles. [Thank you very much create John Lenon, Paul Mc Cartney, Ringgo Star, and George Horison, which many giving inspiration for us.]
Tutur Tinular - Ayu Wandira bag.1
tutur tinular episode ayu wandira
Situs Candi Bumi Ayu
Situs Candi Bumi Ayu
Sumpah Pemuda
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
East Java
The Majapahit dynasty, based in and around East Java, began the foundations of an empire that was to dominate the entire Indonesian archipelago, the Malay peninsula and part of the Philippines for hundreds of years. This was the beginning of profitable trade relations with China, Cambodia, Siam, Burma and Vietnam. As power in Central Java declined in the 10th century, powerful kingdoms rose in East Java to fill the power vacuum. During the reign of King Erlangga both East Java and Bali enjoyed lucrative trade with the surrounding islands, and an artistic and intellectual renaissance. Parts of the Mahabarata epic were translated and re-interpreted to conform to an East Javanese philosophy and view of life, and it was from this era that East Java inherited much of its temple art. Today the open-air amphitheatre at Pandaan performances tell some of the stories of this glorious past, set against an impressive backdrop of distant volcanoes, capturing the spirit of the province's culture and scenery. East Java's claim to fame in modern history is its vanguard role in the struggle for independence against colonial forces in 1945. Little of the Majapahit Empire's former glory still stands in East Java. Nevertheless, East Java has a variety of attractions, ranging from temple sites to unspoiled beaches, stunning volcanoes, extra ordinary highland lakes, resplendent marine parks and fantastic wildlife reserves. Magnificent mountain scenery includes the crater and legendary sea of sand at Mount Bromo, the "sulphur mountain" of Welirang and rugged Ijen Plateau. The island of Madura, famous for its bull races, is also part of the province and has its own traditions, culture and language. The provincial capital, Surabaya is second in size, population, and commerce only to Jakarta. It is also the most industrialized province in the nation with a strong economy based on agriculture, (coffee, mangoes and apples), fisheries and oil. The province is efficiently connected to the rest of Java by good roads, regular trains, and air services between Surabaya and other major cities in the country including Denpasar on Bali, which is only half an hour's flight away.